Pasir Jati, Tempat Favorit Bermain Anak Ujungberung 90’an

Minggu pagi pada masa-masa SD adalah hari yang paling spesial bagi anak 90’an. Banyak banget momen indah yang saat ini tertanam di ingatan. Banyak hal yang bisa di lakukan, dimulai dari jalan-jalan sama teman, nonton kartun se-abreg dari pagi sampai siang (sore juga ada, cuman dari pagi sampai siang itu yang paling banyak kartun).

Anak 90’an memang penuh “kebahagiaan” menurut saya. Berbeda dengan zaman sekarang, teknologi sudah semakin sangat cepat berkembang, ngga tahu kalau nanti, akan seperti apa kecanggihan teknologinya? Awkarin + Youtube aja sudah heboh. Kebahagian tanpa kesan, karena pergantian suatu hal yang boomingnya ngga bertahan lama. Kalau dulu beda, boomingnya lama dan meninggalkan kesan mendalam. Hehe

Anak-anak milenial sekarang disuguhi teknologi tanpa batas. Dan sudah banyak yang tidak terawasi. Dan kita akui bersama jika pada saat kecil, kita semua kurang begitu di awasi oleh orang tua. Karena memang, 24 jam kita ngga mungkin selalu bersama-sama, dengan siapapun.

Kita perlu berinteraksi dengan orang lain dan dengan kegiatan yang lain juga.

***

Pasir Jati adalah sebuah komplek yang berada di Desa Jati Endah, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Daerah kompleknya berbukit, jalannya kebanyakan adalah sebuah tanjakan. Jadi kalau yang punya motor yang ngga kuat nanjak, mending ngga usah di bawa motornya hahaha.

Pasir Jati berbatasan langsung dengan kota Bandung. Perkembangan Pasir Jati pun dikatakan sangat pesat, dengan bertambahnya jumlah populasi manusia yang terus bertambah. Sehingga tentu saja manusia harus mencari tempat untuk tinggal.

Jomblo-jomblo harus waspada, belum nikah, belum punya rumah (apa hubungannya? hahaha).

Lari Ke Pasir Jati Tiap Minggu

PASIR JATI UJUNGBERUNG

Saat saya SD, minggu pagi seringnya pasti jalan-jalan ke pasir jati bersama teman bermain, atau kadang sendirian juga. Pokoknya sudah menjadi rutinitas yang sering dilakukan, mau sendirian atau sama orang lain.

Teman main saya waktu SD adalah Nauval Ginanjar (biasa dipanggil Adek Opal), Arif Mulyana, Haga, Sanjaya (Cau) dan lain-lain. Cuma yang paling sering banget main yaitu sama Nauval Ginanjar dan Arif Mulyana. Kalau Nauval teman sekelas saya sewaktu SD, kami sering bermain bersama bahkan kadang saya nginep dirumahnya setiap malam minggu. Kalau Arif Mulyana Beda tahun masuk sekolah aja sama kita berdua.

Setiap minggu pagi, sehabis sholat shubuh, kami semua sering saling nyamper untuk pergi jalan-jalan ke pasir jati. Atau kadang kami merencanakan bermain bola di pasir jati.

Jalan-jalan ke pasir jati, kami sering sekali menyebutnya dengan “Lari”.

Hayu ah, isuk lari ka pasir jati (Ayo besok kita lari ke pasir jati)” kalau salah seorang dari kami ketika ngajak untuk pergi kesana. Padahal mah boro-boro lari, hahaha. Yang ada cuma jalan kaki doang, jadi “lari” itu cuma istilah aja yang sering kita pakai. Dan kita jarang pake sepatu juga kalau pergi. Palingan pake sendal.

Siapa yang bangun duluan, biasanya dia yang nyamper ke rumah teman yang lain. Jadi nyampernya satu-satu. Misalnya saya yang bangun tidur duluan, lalu saya nyamper Arif. Setelah Arif bersiap, lalu saya dengan arif nyamper Opal. Setelah Opal bersiap kita bakalan nyamper teman yang lain lagi, yang sudah janjian sebelumnya.

Atau ngga jarang, kita ngga sengaja ketemu pas di pasir jatinya. Seringnya kita rame-rame ke pasir jati.

Di pasir jati banyak banget orang yang dagang, jalanan pasir jati menjadi pasar kaget yang hadir setiap minggu pagi. karena jam 12 siang, biasanya sudah clear dari pedagang, palingan sampah-sampahnya banyak yang berserakan, dan itu bagian dari kebersihan panitia penyelenggara pasar kagetnya.

Zona Tanah Merah Di Pasir Jati

Di pasir jati itu ada target daerah utama yang kita tuju, dan semuanya pasti kesitu. Jadi di pasir jati ada satu tempat tanah kosong sangat luas yang berbukit-bukit, masih berupa tanah merah dan juga batu cadas. Bahkan ada batu yang paling besar, entah berapa ton beratnya. Dan orang-orang biasa menyebutnya gunung batu. Atau ada juga yang menyebutnya lengkeng.

Di daerah tanah merah itu, kita bisa bermain serodotan manual. Bukit curam (sekitar 30-40 derajat) setinggi 3 sampai 4 meter. Dan kita semua paling suka main serodotan itu.

Menuju tempat serodotannya, kita harus bersusah payah untuk sampai ke tempat nya. Kita harus memanjat tanah dan batu. Dan semua anak-anak yang kesitu pasti melakukannya.

Ada beberapa spot yang selalu dilakukannya terus saja memanjat. Kami seperti berpetualang ketika sudah sampai disini pun.

Semua anak-anak yang ada disini semua nya terlihat bergembira, karena cuma main serodotan ditanah merah saja kita sudah merasa bahagia sekali. Ngga hanya serodotan saja ada juga yang main bola. Kalau yang main bola, susah banget tuh pas lagi bola nya ke tendang jauh. Hahaha… harus turun bersusah-susah payah.

Daerah tanah merah ini berbukit seperti anak tangga. Jadi ada anak tangga kesatu, kedua, ketiga dst.  Jadi di tanah merah yang pertama banyak yang main bola, yang kedua banyak yang serodotan. Dan aktivitas-aktivitas lainnya.

Sebenernya, main ke tanah merah ini yang paling populer itu serodotan, kedua cuma berpetualang manjat-manjat terus cuci mata, ketiga main bola. Hal itu semua sudah bikin hati kami gembira, dan berkesan untuk seorang introvert seperti saya dan anak-anak lain.

Serodotan bareng-bareng itu seru juga, kita semua berpegangan tangan atau pundak. Lalu kita meluncur bersama-sama. Hahaha. Kadang juga meluncur berbaris bersamaan. Kita semua teriak ketika sedang meluncur.

***

Biasanya, kita paling lama cuma 2 jam berada di tanah merah itu dan setelah itu pulang. Celana dan baju kami semuanya kotor, apalagi bagian pantat, kotor sama tanah merah.

Setelah pulang dari pasir jati biasanya saya beli susu yang harganya Rp. 500-an dan juga beli cakue harganya Rp. 500-an juga. Bekal 1000 perak cukup kalau dulu. Apalagi kalau pas kelas 1 SD, bekal ke sekolah itu 25 perak atau 50 perak. Dikasih bekal uang 100 perak udah kaya. wkwkwk 😀

Jalan-jalan Ke Pasir Jati Tinggal Kenangan

pasir jati ujungberung
Ini keponakan saya yang lagi diam di batu besar.

Sekarang zona tanah merah yang menjadi tempat kami semua bermain dan berpetualang akan menjadi sebuah pemukiman. Anak-anak Ujungberung yang lahir tahun 90’an, pasti pernah atau bahkan sering kesitu.

Yang paling kuat ingatannya, pasti anak 90’an yang lahir di tahun 90 sampai 94. Kalau Yang lahir Dari 94 ke atas, kemungkinan sedikit yang merasakannya.

Seiring berjalannya waktu, semuanya lambat laun pasti akan ada sebuah perubahan dari segi apapun yang ada didunia ini. Dan yang paling sering adalah perubahan lahan tanah, menjadi sebuah pemukiman penduduk. Mau itu jadi apartemen, komplek atau jadi apapun itu yang jelas pemukiman pasti akan berkembang.

Ngga hanya di pasir jati, begitupun daerah-daerah lain, Seperti daerah rancaekek atau cibiru sekarang sudah banyak pemukiman. Dan memang, Bandung Timur dan kearah timurnya lagi akan menjadi banyak pembangunan infrastruktur. Buktinya, sekarang bahkan bakalan ada Bioskop XXI di Ujungberung.

***

Kesenangan bermain di tanah merah itu sekarang hanya tersimpan dalam kenangan, dan sulit dituliskan.

Leave a Comment