Lanjutan Cerita Belajar Bisnis

Saya akan melanjutkan cerita perjalanan saya belajar bisnis, hingga dapat orderan 30 juta. Sebenernya, kalau kata beneran yang seorang pengusaha, saya masih dalam tahap proses berdagang, bukan pengusaha. Karena kalau pengusaha, sudah ada sistem dan bisnisnya bisa berjalan dengan autopilot.

Tapi saya masih ikut campur dalam proses berjalannya bisnis yang saya jalankan.

Lanjutan Cerita Belajar Bisnis

Ngelapak Dagangan Di Hari Libur

Sambil berdagang, ngelapak di CFD tuh menjadi tempat yang enak. Karena saya ngerasa jalan-jalan, apalagi dikakukan di minggu pagi.

Banyak aktifitas yang orang-orang lakukan dengan di adakannya CFD di dago ini. Seperti jalan santai, senam, bersepeda, main sepatu roda, atau ada juga yang hanya sekedar cuci mata. Selain itu, banyak pula event yang dilakukan oleh media elektronik seperti radio-radio asal bandung yang sering banget ngadain event. Perusahaan yang ada dibandung pun tak kalah ingin menunjukan promosinya ke publik. Kumplit banget jadinya.

Saya seringnya dagang dekat perempatan simpang dago dekat Mcdonald, didepan sebuah rumah gedong. para pembeli biasanya yang sedang bersepeda juga. Pesepeda diam didepan lapak dan melihat-lihat. Butuh lama buat terjadi kesepakatan.

Paling banyak dagangan laku ngga lebih dari 10 produk. Paling sedikit cuma 3 Produk.

CFD DAGO

Jualan di CFD dago sebelumnya sempat berhenti beberapa pekan, karena ada peraturan kalau di CFD ngga boleh dagang karena mengganggu pemandangan. Dan sempat juga para SATPOL PP meminta KTP orang yang berjualan. Mencari tahu, apakah asli bandung atau di luar Bandung orang yang jualan itu?

Aktifitas saya berjualan ngga hanya di CFD aja, tapi ketika ada event sepeda saya bakalan datang kesitu untuk berjualan. Paling besar, saya dapat keuntungan 500 ribu lebih hanya dalam 3 jam.

Waktu dapat 500 ribu itu, ada event di daerah TNI, saya lupa nama tempatnya apa, pokoknya mah deket-deket dari BIP. Disitu banyak banget yang nanya-nanya, saya sempat pusing dibuatnya. Kadang kesel banget sama pembeli yang maksa-maksa minta harga murah.

Apalagi kalo badannya kekar dan muka kasar. Saya ngga bisa apa-apa dibuatnya. Bahkan pernah ada yang mau nyuri dagangan saya, ketika saya hampir lengah karena sibuk melayani pembeli yang lain. Dan yang paling besar dapat uang, adalah ketika berjualan di event daerah TNI itu, Dapat 500 ribu.

Senang sekali rasanya, bisa ngehasilin uang dengan keringat sendiri. Pas pulang dari jualan itu, ketika di jalan, saya melihat tukang cuanki yang lagi duduk makan sendirian.

Dalam hati “Ya Allah, tukang cuanki itu capek-capek nanggung barang, dapat uang ngga seberapa, saya cuma 3 jam dapat uang 500 ribu.” Sedih ngelihatnya, dan saya bersyukur dengan apa yang saya sudah dapatkan dihari itu.

Pas pulang kerumah saya bilang ke Ibu dan ke Kakak, “Endin dapat uang 500 ribu!” Saya perlihatkan uang, sambil perasaan sumringah.

Pernah juga dagang ngelapak jauh-jauh, tapi cuma dapat 50 ribu. Waktu itu ada event di jakarta. Ini juga saya lupa lagi nama tempatnya.

Kalau dijakarta, saya takut banget pas turun dari mobil Pak Ujang. Karena banyak banget security di event nya, ada juga SATPOL PP. Saya bawa tas gede banget, beratnya 25 kg mungkin ada. Pas turun, lalu bawa tas dan keliling-keliling nyari lapak. Ada celetuk kalimat dari orang yang bilang, “Lagi apa tuh orang, bawa-bawa tas gede!” Mungkin di kira bom kali ya. Hmm…

Saya tambah deg-degan ketika ada yang bilang seperti itu. Selain takut sama SATPOL PP, ngeliat curigaannya orang sama saya pun ngerasa minder jadinya.

Sampai beresnya event sepeda di Jakarta. Banyak orang yang ikut kegiatan tapi ngga banyak yang beli. Yang ada malah dicurigai dan cuma dapat 50 ribu. Paling menyedihkan menurut saya pengalaman ngelapak kali itu. Hehe 🙂

Saya melakukan jualan aksesoris perlengkapan sepeda lamanya sekitar 6 sampai 7 bulanan lah kalau ngga salah. Dengan pengalaman seperti itu, saya jadi banyak mengenal karakter orang seperti apa. Pengalaman yang super menurut saya, penuh tantangan.

Dapat Orderan 30 Juta

orderan 30 juta

Nah, pasti nunggu cerita yang ini ya? Hahaha 😀

Jadi gini ceritanya.

Setelah selesai kuliah, beberapa bulan setelah itu. Saya di kasih orderan jaket sama teman. Dengan Total 30 Juta Rupiah. Ya bagi saya ini orderan yang pertama kali dengan jumlah uang yang besar.

Teman percaya saya, karena ngelihat saya sebelum-sebelumnya paham akan jalannya proses produksi pembuatan jaket.

Saya menerima uang orderanya. Awal-awal saya masih tenang, semua masih terkendali.

Membeli semua yang dibutuhkan

Ketika saya akan bekerja memproduksi jaket massal pertama kali, Ada beberapa hal yang saya lakukan:

  • Merekrut Karyawan

Dengan uang yang saya terima, terlintas pertama kali di pikiran yaitu merekrut karyawan yang nanti nya akan membantu saya dalam kegiatan produksi. Karena akan sulit jika saya bekerja sendirian, harus kesana kemari. Saya butuh rekan kerja agar pekerjaan lebih ringan.

Lalu ada 2 orang teman yang saya jadikan karyawan. Sebut saja namanya Iwan dan Eka (Nama Samaran). Iwan dan Eka masih tenang juga saat pertama kali saya ajak.

  • Menyewa Kos-kosan untuk produksi

Lalu saya memutuskan menyewa sebuah kos-kosan untuk nantinya digunakan kegiatan sebagian produksi jaket.  Ekspektasi saya sangat jauh ketika menyewa kos-kosan ini, berimajinasi bahwa kalau nantinya akan terjadi sebuah konveksi kecil-kecilan di kosan yang saya sewa ini. Karena saya ingin ada kegiatan proses yang saya miliki punya karyawan juga pada waktu itu.

  • Membeli Kain Bahan Sweater

Setelah saya merekrut karyawan dan juga menyewa sebuah tempat. Langsung dah saya belanja kain ke Cigondewah. Dengan pesananan yang jumlah yang banyak. Jujur saya canggung. Karena biasanya hanya membuat dibawah 50 Pcs, kali ini saya harus membuat dengan total hampir seribu pcs.konveksi bandung

Pada saat pertama kali membeli kain, saya menyewa angkot, karena takutnya kain yang sudah dibeli tidak akan muat dibawa.

Saya menggunakan motor dan Iwan menggunakan angkot yang sudah di panjer pada malam hari sebelum besoknya berangkat. saya berangkat terlebih dahulu dibanding Iwan.

Dengan menggunakan motor Legenda tahun 2003, saya meluncur ke cigondewah menggunakan jalur Soekarno-Hatta. Baru saja sampai di Depan Carefour, tiba-tiba hujan besar turun. Untungnya saya bawa jas hujan. Saya berhenti dulu, di depan Carefour. Hujan nya besar, dan saya takutnya Iwan sudah sampai terlebih dahulu di cigondewah.

Saya langsung tancap gas lagi. Melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.

Ngga jauh dari Carefour, eh tiba-tiba motor saya mati. Lalu dibantu pengendara lain, motor saya di step dari belakang. SPBU ada didepan mata, tapi terasa jauh kalau di dorong sendirian.

Saya pikir motornya abis bensin, tapi bukan, ternyata busi nya kebasahan. Jadinya ngga bisa nyala motornya. Sekitar 15 menit, saya coba benerin busi nya. Dan Alhamdulillah nyala lagi

Sesampainya di Cigondewah saya menghitung-hitung lagi jumlah berat kain yang harus dibeli agar cukup untuk semua jaket yang nantinya akan di produksi. Padahal dirumah sudah saya hitung. Takut salah perhitungan.

Membeli Kain pun beres.

Lanjut Proses Produksi Pengerjaan

konveksi bandung

Saya hanya paham pengerjaan produksi jaket kalau di buatnya cuma dikit dan model-modelnya juga ngga ribet. Tapi ini malah menjadi masalah baru buat saya. Ketika jumlah banyak dan juga modelnya ribet.

Saya kewalahan, dengan waktu yang bisa dibilang lama. Tapi hal itu menjadi sangat singkat waktunya ketika saya masih sibuk ngurus pola jaket yang ngga semuanya beres. Deadline semakin mendekat.

Mencari penjahit yang pengalaman, membuat pola dan menyablon. Semua tukang profesi tersebut susah ditemukan. Tetap saja ada trial error. Saya berganti-ganti tukang jahit, tukang pola dan juga sablon nya.

Semua planing berantakan, semua jaket ngga terkerjakan dengan baik

Saya cuma modal nekat. Yang tadinya saya pikir akan dapat uang yang lumayan, tapi akhirnya saya rugi. Persahabatan pun menjadi retak. begitupun partner-partner yang lain, seperti tukang jahit, tukang pola dan tukang sablon.

karena beberapa hal, teman saya akhirnya menjauh karena banyak sekali trouble yang terjadi diluar dugaan saya.

Tapi hal ini jadi pengalaman bagi saya, pengalaman yang ngga pernah terlupakan.

 

Baca Juga: Saya Ambivert Yang Kebanyakan Introvert

Leave a Comment