Dari Tukang Sayur, Sampe Pengusaha Sukses

Ketika kita semua masih kecil, pasti selalu dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan orang dewasa, dan yang paling sering ditanyakan yaitu tentang cita-cita. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan ide tersebut hingga menjadi kebiasaan sampai sekarang. “cita-cita nya mau jadi apa adek?” sembari megang-megang pipi.

Pencarian Menggapai Cita-cita

Bagi anak 90-an banyak sekali anak-anak yang cita-citanya bagus tapi rata-rata samaan. Ingin jadi Pilot, Tentara, Polisi, Dokter, Astronot. Ngga Jauh-jauh dari situ (Beda dengan kids zaman now, ada yang pengen jadi Youtuber). Mereka (anak-anak) menginginkan cita-cita tersebut karena pasti ada sebuah kebiasaan visual atau pengajaran yang telah dirasakan sang Anak.

Pengen Jadi Tukang Sayur

Jika dibandingkan, cita-cita saya berbeda dengan anak-anak lain yang nantinya mereka akan punya pangkat yang tinggi di masyarakat. Dengan percaya diri saya bilang ke ibu (ada kakak perempuan saya waktu itu),  “Mak, saya pengen jadi tukang sayur!” Ibu saya tertawa, begitu juga kakak. Polosnya saya pengen ngejalani profesi usaha jualan sayur keliling.

Tukang Sayur Online

Karena setiap pagi saya selalu lihat pedagang sayur keliling di depan rumah tetangga dan ngitung banyak duit. Pikir saya waktu kecil, “Wah enak banget jadi bapak yang jualan sayur itu, banyak uangnya” (Kecil-kecil udah tahu duit, ampun dah, hehehe). Jadi “tukang sayur” ini adalah cita-cita pertama yang saya ucapkan. Terlalu biasa mungkin, dengan cita-cita yang lain dengan pangkat-pangkat yang keren, jadinya saya milih profesi penjual sayur. Heuheuheu

Ditambah, waktu kecil saya selalu di ajak ke Pasar. Makin banyak yang dagang sayur ngitung duit. Heuheu. Pasar memang jadi tempat “favorit” bagi semua orang. Banyak orang yang betah berada di pasar. Mungkin bener juga ya di pasar itu banyak “setannya”. Sampai-sampai, banyak orang yang enggan pergi ke mesjid dan enjoy di pasar   sibuk dengan jual beli.

Pengen Jadi Jurnalis Perang

Sejak kelas 5 SD, saya senang nonton berita di televisi. Waktu itu Liputan 6 menjadi acara paling favorit sebelum berangkat ke sekolah kalau kebagian jadwal masuk pagi. Sambil Menyantap sarapan, saya sangat menikmati berita-berita yang disajikan sang pembawa berita (news anchor). Mulai dari berita politik, ekonomi, perang di timur tengah, apalagi berita Persib Bandung selalu ditunggu-tunggu.

Kalau dirasa-rasa, kok saya tua banget ya? Heuheu.. Masih kecil nontonnya berita yang berat-berat. Mungkin karena orang tua seringnya nonton berita, jadi sedikit demi sedikit terpengaruh. Tapi, sebenernya ada hal yang di pengenin waktu itu, kenapa selalu enjoy nongkrongin berita di TV.

Jurnalis media cetak ataupun elektronik saya pengen banget jadi itu. saya pun banyak mencari tahu bagaimana caranya menjadi Jurnalis. Dan katanya, modal utama menjadi seorang Jurnalis adalah menulis. Sayapun semangat belajar menulis artikel, bagaimana membuat laporan berita yang baik, banyak baca berita, baca novel, pokoknya semua tulisan itu diperhatikan, karena tulisan itu punya gayanya masing-masing. Jadi saya harus belajar.

Pas SMA, kalo lagi ke rumah temen, saya suka minjem koran yang sering dipesan. Setiap hari tukang koran nganterin ke rumahnya. emang udah rutin berlangganan koran. Koran Pikiran Rakyat waktu itu, dan koran ini termasuk yang paling mahal dibanding koran Galamedia. Heuheuheu. Tapi ngga tahu sekarang harga koran berapaan. Udah banyak yang gulung tikar juga soalnya, udah mulai ekspansi ke Online.

Keinginan pengen jadi wartawan masih bersambung hingga SMA, saya masih belum berubah pendirian, pengen jadi Jurnalis.

Di Pikiran Rakyat, saya lihat ada salah satu rubrik yang menjadi fokus koran tersebut untuk kalangan remaja dan  hadir seminggu sekali tiap selasa, namanya Rubrik Belia.

Saya baca-baca, Rubrik Belia ada kesempatan biar pembacanya agar bisa ikut berpartisipasi mengisi tulisan. saya pun mencoba membuat artikel dan berhasil dimuat pertama kalinya. Judulnya “From Zero To Hero“, saya masih ingat sampai sekarang, tapi isi dari artikelnya apa, saya ngga tahu, lupa lagi. Heuheu!

Setelah itu sayapun beberapa kali lagi menulis lagi untuk Rubrik Belia, Alhamdulillah dimuat lagi. Fee yang diberikan sangat lumayan untuk anak SMA, satu artikel dengan panjang 300-an kata diberi sebesar 250 ribu rupiah.

Tapi, semenjak lulus SMA, saya jadi malas nulis hingga sekarang. Agak tumpul lagi dah kemampuan nulisnya.

Jadi Jurnalis ini cita-cita bagus menurut saya pada masa itu. Ini adalah salah satu paling menggebu. kayaknya keren, punya pekerjaan tapi bisa jalan-jalan juga, buat laporan.

Jurnalis Perang
source: https://sputniknews.com/

Pas SMA, sekitar tahun 2008 atau 2009 nan lah (agak lupa). Gencar-gencarnya berita tentang penyerangan Israel Ke Palestina (dan ini udah menjadi hal yang biasa hingga sampai sekarang, mungkin sampai Imam Mahdi tiba).

Berita penyerangan Israel ke Palestina, menjadi breaking news di semua media, tak terkecuali media televisi. Para reporter selalu menyampaikan berita terbaru tentang situasi yang sedang terjadi.

Selain merasa miris melihat keadaan di Palestina, di sisi lain hati saya berbisik, “Kok keren jadi Jurnalis itu?!”

Karena sering banget lihat langsung para Jurnalis melaporkan langsung, sembari tegang dengan situasi yang berkecamuk. Saya makin salut dengan mereka. “Wow, perjuangan para Jurnalis sampai segitunya.” Sampai-sampai, saya sebenernya pengen masuk Fakultas Fikom, jurusan Jurnalistik.

Pengen Jadi Pengusaha Sukses

Diluar dari pro-kontra rokok. Iklan rokok itu selalu punya konsep yang selalu bagus. Saya selalu suka dengan iklan-iklan rokok. Walaupun saya ngga ngerokok, tapi kalau bicara marketing mereka salah satu jagonya.

Iklan-iklan mereka menarik, seringkali menampilkan “kebebasan” dan bagaimana menjadi diri sendiri.

Ada yang saya ingat dari iklan U-Mild, waktu itu mereka punya tagline “Ngantor Ngga Harus Ke Kantor”. Dan berikut ini narasi lengkapnya: 

Senang itu pas lagi ngantor
Karena ngantor ngga harus di depan monitor
Ngantor asikan cuma berkolor
Lebih spesial lagi kalau pake telor
Ngantor ngga harus indoor
Ini baru ngantor
Ini baru cowok U Mild

Dengan adanya iklan cowok U-Mild itu, saya terpengaruh banyak. Dan yang paling mendekati dari iklan-iklan cowok U-Mild itu adalah sebagai pengusaha. Sampai sekarang, saya masih ada keinginan menghasilkan uang dengan kebebasan. Tanpa terkekang teman kantor yang rese dan waktu sholatpun bisa terjaga.

Menjadi Pengusaha Sukses

Kalo menjadi pengusaha, saya sudah berusaha melakukan dan menjalankan prosesnya. Banyak sekali rintangan yang harus dihadapi. Terlihat enak, lihat para pengusaha muda yang sudah sukses. Padahal rintangan mereka banyak sekali. Dan saya sedikit merasakan lika-liku menjadi pengusaha tersebut.

Untuk apa cita-cita itu?

Setiap manusia pasti punya cita-cita yang dituju. Menggapai cita-cita bukanlah sesuatu yang mudah. Sebuah cita-cita selalu berubah-ubah, tergantung situasi. Seperti saya, asalnya pengen jadi tukang sayur, lalu jadi seorang Jurnalis perang dan sampai sekarang ingin menjadi seorang penguasaha yang berkah melimpah.

Cita-cita itu menjadi motivasi manusia untuk selalu bergerak.

cita-cita itu berubah karena saya ada di situasi dan kondisi yang berbeda. lingkungan berpengaruh besar dalam terbentuknya cita-cita.

Leave a Comment